Impian yang Masih Menghantui
Hi, udah lama gak nulis.
Mumpung emang lagi WFH (Work From Home) dan emang beberapa akhir hari ini semangat saya hilang dan saya di hampiri hal - hal gila di kepala dan well secara logika dan reality itu gak mungkin di wujudkan. Tapi yah, emang setelah sekian lama bersahabat dengan diri saya sendiri, saya paham bahwa diri saya ini sedikit keras kepala dan gak bakal berhenti kalau saya gak berusaha untuk menyelesaikan benang kusut yang bener - bener kusut di kepala saya. Apalagi kalau saya tahu ada saja jalan untuk menjalankannya. Yaah, well intinya saya tipe orang yang bakal penuhi apa yang saya inginkan bahkan walau itu terlihat gila d depan orang lain. Yah, intinya kalau di hadapan orang lain, intinya saya gila. Hahaha, kadang juga gue disebut "gak bersyukur, gak puas sama hidup dan well hidup aja kayak orang lain, kenapa sih ??" Walaupun pada akhirnya, telinga saya juga hanya ikutan budek mendengar itu semua.
Jadi, di atas itu adalah alasan saya nulis ini. Memuntahkan sedikit kegalauan saya yang entah harus diselesaikan ini dan walaupun saya tahu ini juga gak buat saya lega sampai apa yang saya inginkan tercapai, tapi yah mungkin bisa sedikir meringankan lah. Dan well, setelah mencari tulisan - tulisan di internet yang asli gak ngasih solusi dan video di youtube yang malah ngasih harapan untuk saya mengikuti bisikan gila ini (yang bakal saya anggap sebagai bisikan setan. Hahaha, entahlah)
Ummm, kita mulai dari cerita kali ya.
Sejak kecil saya ingin menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. Saya suka belajar sejak kecil Hanya itu hal yang saya senangi. Walaupun anak seusia saya suka bermain dan well saya juga suka meski tidak sebanyak mempelajari sesuatu. Mempelajari sesuatu adalah hal yang menarik bagi saya. Membaca cerita, mempelajari astronomi, bentuk tubuh dan lain - lain. Walaupun saya tidak jenius, dan well itu memang terbukti selama ini. Tapi jujur saya suka belajar. Saya terasing secara sosial sejak kecil. Walaupun saya tidak di bully, saya juga punya teman. Namun tetap saja, saya tidak memiliki deep relationship dengan mereka. Bercerita masalah pribadi bukanlah hal yang menarik bagi saya. Jadi, saat masih SD apa yang saya ceritakan dengan teman - teman saya ? Buku yang saya baca, fenomena alam, kiamat, bahkan teori bigbang sudah saya ketahui ketika duduk di kelas 3 SMP melalui bacaan ensiklopedi Harun Yahya. Sya haus akan ilmu, tentang kejadian, bagaimana sesuatu terjadi. Saya igin selalu tahu. Walaupun saya bukan tergolong jenius.
Makanya mesti punya teman, saya tetap menaruh mereka di nomor entah ke sekian sebagai prioritas. Saya lebih bakal sedih kalau tahu nilai saya turun, saya bukan juara satu atau ketika saya gagal masuk tim lomba yang lolos, saya bakal mengurung diri di kamar, dan mengutuk diri saya karena bodoh. Hahaha, kacau...
Waktu SMP, saya banyak dipengaruhi oleh komik dan di situlah mulai hidup saya hancur secara akademik. Jujur banyak keputusan absurd yang saya ambil saat SMP dan SMA. Mungkin saya pernah bilang di postingan sebelumnya kalau saya menyesal masuk ke SMA saya yang dulu. Saya menyesal karena tidak ikut lomba yang di tawarkan guru saya. Banyak penyesalan ketika saya seharusnya menaruh perhatian penuh pada bidang akademik, saya malah menghabiskannya untuk hal tidak masuk akal kalau sekarang saya mikir lagi.
Saya ingin balik ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan ini tapi yah itu tidak mungkin kan. Harusnya dulu saya lebih menyayangi diri saya sendiri. Hidup normal biar saya tahu sebenarnya saya maunya apa. Bukan memaksakan diri untuk fit in dalam kehidupan sosial. Kalau memang saya payah dalam kehidupan sosial, harusnya saat itu saya tetap menerima kenyataan pahit ini. Kalau saya tidak sociable. Kalau saya introvert bukan malah memaksakannya hanya agar bisa "asyik" gitu di ajak berteman. Fuck off. Karena pemikiran inilah dulu, saya jadi orang tolol seperti sekarang. Haah, kalau di pikir - pikir lagi, rasanya saya pengen ngebanting laptop nih. Hehehe
Dan masalah yang menghantui saya dari pemaparan di atas adalah cita - cita saya yang belum kesampaian. Atau saya simpan karena saya tahu kalau itu mustahil terwujudkan. Well, alasan utamanya adalah dana dan yaah karena mungkin saat itu saya dibutakan oleh perasaan "ingin diakui orang tua". Saya tidak menyalahkan masa SMA saya, saya tidak benci teman - teman saya. Yaah walau di lain kesempatan menulis saya juga menyalahkan mereka karena tidak sesuai ekspetasi saya walaupun pada akhirnya saya hanya menyalahkan diri sendiri karena "tidak bisa jujur" ke mereka. Atau saya terlalu takut untuk jujur akan warna asli saya. Sekali lagi itu karena saya yang selalu mencoba untuk terlihat "normal" meski kenyataannya saya bukanlah diri saya. Namun untuk sekarang, saya sudah mencoba untuk berdamai dengan hal tersebut. Meski yah tidak 100 persen. Kenyataannya, saya hanyalah mencoba menghindari untuk menemani teman - teman saya. Haah, lucu sekali. Jadi intinya, entah apa intinya. Tapi sekarang kita kesampingkan masalah itu di lain waktu. Malas saya membahasnya.
Kembali ke pikiran saya berhari - hari ini, keinginan saya ketika masih kecil adalah menjadi seorang dokter. Saya masih ingat ketika saya begitu bahagia menempelkan entah apa namanya ke dada seseorang (saya beneran lupa), saya masih ingat ketika saya main dokter - dokteran dengan kakak saya. Saya meracik obat dan sebagainya (walaupun obat yang saya maksud adalah karbol pembersih wc dan cairan pembersih lantai. Intinya saya bahagia jadi peran itu. Saya juga masih ingat ketika SMP entah kelas berapa, kakak saya bertanya "Mi, jadi kamu mau jadi apa ?" Saya pun menjawab dokter dengan mantap. Dia malah menambahkan "iya yah, kamu bisa jadi dokter kandungan karena dokter kandungan wanita sangat sedikit. Yah, dulu kenyataannya begitu sih. Dokter kandungan di kota saya cuma satu dan itu laki - laki.
Dan well menanggapi itu saya masih ingat kalau saya sempat tersenyum simpul dan menetapkan dalam hati. OK, this is my goal, i will go with it. Ibu saya juga ada saat itu dan dia hanya menggangguk saja dan bilang tidak buruk saja sepertinya. Entah ini ilusi pikiran saya atau kenyataan. Dan semua itu kemudian runtuh ketika saya kelas 3 SMP. Saat sepupu saya datang ke rumah. Bukan salah dia sebenarnya, saya saja yang aslinya kesal dengan perubahan. Dia jadi dekat dengan kakak saya, dan yah dengan citra diri yang rendah dan kepercayaan yang rendah. Saya menjauh dari kakak saya termasuk keluarga. Saya lebih suka main di rumah teman hanya untuk menghindari melihat kakak saya lebih dekat dengan orang lain. Jujur saya tidak suka, tapi yah apa daya, saya tidak punya kepercayaan diri untuk bersaing dengannya. Karena dulu menurut saya hidup dulu adalah bersaing. Jika saya tidak yakin akan menang yah well, saya akan menjauh. Pokoknya banyak masa sakit dalam pertumbuhan hidup saya termasuk masa remaja. Saya sepertinya mengalami dan melewati masa krisis itu dengan hasil yang mengerikan. Saya tidak lulus jika di tes masa pertumbuhan. Yaah, well gak apalah.
Dan masa jungkir balik dunia saya dimulai saat "brosur itu datang" Sekolah SMK. Haah, kalau saya ingat - ingat lagi, ayah saya saat itu hampir tidak pernah mengajak saya bicara dan memperlakukan saya sebagai suatu makhluk yang tidak berbentuk. Meski tidak pernah memukul, tapi sepertinya sudah cukup menghancurkan kepribadian saya hingga hari ini. Yah, sampai sekarang pun saya adalah orang yang paling dihindari ayah saya. Meski saya juga melihat gurat kebersalahan itu darinya, tapi yah sekarang saya sudah hidup semau saya dan tidak perlu di atur lagi, yah well intinya meski sulit melewatinya, saya sekarang jadi lebih bisa tenang dan menjadi diri saya sendiri. Meski untuk menunjukkan dan membiarkan orang masuk ke dunia saya adalah sesuatu yang sulit karena entah karena trauma atau mungkin karena yaah saya tahu tidak semua orang bisa menerimanya. Setidaknya saya sulit menampilkan "diri yang mereka tahu" lagi, itulah mengapa saya menghindar.
Andai saja brosur itu tidak datang, andai saja ayah saya mau mendukung mimpi saya saat itu, andai saja ayah mau setidaknya mendengar mimpi saya dan mencoba menerimanya. Andai saja pikiran ayah bisa termodifikasi menjadi " asal anak saya senang dengan hidupnya, maka tidak apa dia memilih apapun". Toh kenyataannya masih banyak orang yang tergolong ekonomi ke bawah mampu menyekolahkan anaknya menjadi dokter. Kenapa saat itu saya tidak bisa ?? Andai saja saat itu saya tidak haus kasih sayang, haus perhatian. Kalau saja kedua orang tua saya memperlakukan saya sama dengan saudara saya yang lain. Ini melelahkan sungguh. Karena apa yang saya inginkan saat itu adalah " perhatian ayah" yang saya dapat dari masuk sekolah itu. Andai saya tidak sepolos itu saat itu. Kenapa juga saya sebodoh itu untuk percaya kalau jalan itu bisa membuat saya banyak teman ? Kenapa juga saya sebodoh itu. Sekarang jadi begini kan. Hidup saya jadi tak karuan, meski sudah berada di posisi dimana kedua orangtua saya bangga, keadaan finansial yang sudah aman. Tapi saya tidak bahagia.
Dan kemarin entah bagaimana caranya, saya selalu di suguhi banyak video - video youtube terkait kedokteran. Like " a day of the med student ", like study routine of med student, not too old enter medical student. Untuk yang terakhir, saya langsung terbakar semangat nya dan mulai mencari sekolah kedokteran swasta yang masih menerima mahasiswa kedokteran di atas 35 tahun ( case terburuk karena saya harus mengumpulkan uang dulu dan well harus diakui itu tidak membutuhkan waktu yang sedikit. Dan saya pun mencari dan sampailah saya pada UPH di Jakarta dengan biaya yang fantastis. Yah well, saya gak masalah dengan biayanya. Saya bisa mencarinya lewat usaha dan beberapa program arisan untuk crypto. Yah, saya memang sudah mengikuti beberapa yang menjanjikan besaran uang yang disimpan dan diambil akhir periode lumayan besar (Ini bukan proses pesugihan ya, bukan haram kok tapi menggunakan sistem mining. Saya sampai menghubungi admin UPH masalah pendaftaran kedok dan mereka mengiyakan masalah umur yang tidak dipersoalkan. Tapi kemudian niat saya batal karena melihat kurikulumnya. Intinya yah saya tidak sreg dengan kurikulumnya dan materi bertentangan yang harus dipelajari. Maka mencarilah saya universitas lain di Indonesia. Ke UHT Surabaya. Saya tahu sekolah ini dari salah satu youtuber kedok juga yang kebetulan sekolah di sana dan saat ini masih menjadi mahasiswa di sana. Saya tanya adminnya dan mereka tidak masalah dengan umur. Saya senang bukan main. Tapi kemudian harapan saya jatuh. Mereka mensyaratkan calon mahasiswa haruslah lulusan SMA IPA atau SMK Kesehatan. Rasanya kayak ditimpuk batu di belakang kepala saya.
Dan malam itu saya menangis, meratapi nasib (Hahaha). Mengutuki takdir dan jalan hidup saya. Mengutuk diri saya di masa lalu dengan keputusannya yang sekarang membuat saya menderita. Dan kenapa baru sekarang mimpi ini membunuh saya secara perlahan. Membuat saya selalu menatap lama seorang dokter. Menatapi mereka sampai mungkin mereka juga merasa risih (Hehehe, maaf ya). Setelah lama melihat, saya mengimajinasikan diri saya di posisinya, dan kemudian saya berpaling meneguk ludah dan menghela nafas dan merasa mata saya panas dan dada saya sakit. Proses mengutuki diri pun terulang terulang dan terulang lagi. Tidak ada rasa ikhlas di sana.
Bahkan saat teman saya SD (seorang dokter) menikah, saya hanya bisa mengeluh ke ibu saya kalau saja saya juga dokter mungkin sekarang saya juga sudah menikah. Karena kalau dokter kan memang banyak yang antri. Ketika ibu saya cerita tentang orang di kampung yang sempat ke rumah istrahat karena praktek magang kedokteran di kota saya, saya hanya bisa kesal dan mendengar saja namun sebenarnya saya hanya menjawab seadanya perkataan ibu saya. Dalam hati saya kesal, sangat kesal. Jika dunia punya mesin waktu mungkin saya akan ke masa lalu merubah semuanya. Berkata pada diri saya di masa lalu kalau jangan memilih SMA itu, kamu punya cita - cita lain kan ??
Tapi itu kan tidak mungkin karena masa lalu juga tidak bisa di ubah. Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang. Karena saya tipe orang yang tidak bisa segampang itu melupakan sesuatu. Bukan tipe orang yang akhirnya mengalah dengan keadaan dan mimpi jika mimpi itu tidak terwujud. Jadi apa ? Hahaha, entahlah mungkin suatu saat mimpi saya akan terwujud. Saya masih boleh percaya kan ??
Meski saya akan terus dengan perasaan bersalah saya seumur hidup karena mengambil pilihan salah, maka biarkan setidaknya saya jadi orang yang hidup dengan mimpi yang mustahil......
Kembali ke pikiran saya berhari - hari ini, keinginan saya ketika masih kecil adalah menjadi seorang dokter. Saya masih ingat ketika saya begitu bahagia menempelkan entah apa namanya ke dada seseorang (saya beneran lupa), saya masih ingat ketika saya main dokter - dokteran dengan kakak saya. Saya meracik obat dan sebagainya (walaupun obat yang saya maksud adalah karbol pembersih wc dan cairan pembersih lantai. Intinya saya bahagia jadi peran itu. Saya juga masih ingat ketika SMP entah kelas berapa, kakak saya bertanya "Mi, jadi kamu mau jadi apa ?" Saya pun menjawab dokter dengan mantap. Dia malah menambahkan "iya yah, kamu bisa jadi dokter kandungan karena dokter kandungan wanita sangat sedikit. Yah, dulu kenyataannya begitu sih. Dokter kandungan di kota saya cuma satu dan itu laki - laki.
Dan well menanggapi itu saya masih ingat kalau saya sempat tersenyum simpul dan menetapkan dalam hati. OK, this is my goal, i will go with it. Ibu saya juga ada saat itu dan dia hanya menggangguk saja dan bilang tidak buruk saja sepertinya. Entah ini ilusi pikiran saya atau kenyataan. Dan semua itu kemudian runtuh ketika saya kelas 3 SMP. Saat sepupu saya datang ke rumah. Bukan salah dia sebenarnya, saya saja yang aslinya kesal dengan perubahan. Dia jadi dekat dengan kakak saya, dan yah dengan citra diri yang rendah dan kepercayaan yang rendah. Saya menjauh dari kakak saya termasuk keluarga. Saya lebih suka main di rumah teman hanya untuk menghindari melihat kakak saya lebih dekat dengan orang lain. Jujur saya tidak suka, tapi yah apa daya, saya tidak punya kepercayaan diri untuk bersaing dengannya. Karena dulu menurut saya hidup dulu adalah bersaing. Jika saya tidak yakin akan menang yah well, saya akan menjauh. Pokoknya banyak masa sakit dalam pertumbuhan hidup saya termasuk masa remaja. Saya sepertinya mengalami dan melewati masa krisis itu dengan hasil yang mengerikan. Saya tidak lulus jika di tes masa pertumbuhan. Yaah, well gak apalah.
Dan masa jungkir balik dunia saya dimulai saat "brosur itu datang" Sekolah SMK. Haah, kalau saya ingat - ingat lagi, ayah saya saat itu hampir tidak pernah mengajak saya bicara dan memperlakukan saya sebagai suatu makhluk yang tidak berbentuk. Meski tidak pernah memukul, tapi sepertinya sudah cukup menghancurkan kepribadian saya hingga hari ini. Yah, sampai sekarang pun saya adalah orang yang paling dihindari ayah saya. Meski saya juga melihat gurat kebersalahan itu darinya, tapi yah sekarang saya sudah hidup semau saya dan tidak perlu di atur lagi, yah well intinya meski sulit melewatinya, saya sekarang jadi lebih bisa tenang dan menjadi diri saya sendiri. Meski untuk menunjukkan dan membiarkan orang masuk ke dunia saya adalah sesuatu yang sulit karena entah karena trauma atau mungkin karena yaah saya tahu tidak semua orang bisa menerimanya. Setidaknya saya sulit menampilkan "diri yang mereka tahu" lagi, itulah mengapa saya menghindar.
Andai saja brosur itu tidak datang, andai saja ayah saya mau mendukung mimpi saya saat itu, andai saja ayah mau setidaknya mendengar mimpi saya dan mencoba menerimanya. Andai saja pikiran ayah bisa termodifikasi menjadi " asal anak saya senang dengan hidupnya, maka tidak apa dia memilih apapun". Toh kenyataannya masih banyak orang yang tergolong ekonomi ke bawah mampu menyekolahkan anaknya menjadi dokter. Kenapa saat itu saya tidak bisa ?? Andai saja saat itu saya tidak haus kasih sayang, haus perhatian. Kalau saja kedua orang tua saya memperlakukan saya sama dengan saudara saya yang lain. Ini melelahkan sungguh. Karena apa yang saya inginkan saat itu adalah " perhatian ayah" yang saya dapat dari masuk sekolah itu. Andai saya tidak sepolos itu saat itu. Kenapa juga saya sebodoh itu untuk percaya kalau jalan itu bisa membuat saya banyak teman ? Kenapa juga saya sebodoh itu. Sekarang jadi begini kan. Hidup saya jadi tak karuan, meski sudah berada di posisi dimana kedua orangtua saya bangga, keadaan finansial yang sudah aman. Tapi saya tidak bahagia.
Dan kemarin entah bagaimana caranya, saya selalu di suguhi banyak video - video youtube terkait kedokteran. Like " a day of the med student ", like study routine of med student, not too old enter medical student. Untuk yang terakhir, saya langsung terbakar semangat nya dan mulai mencari sekolah kedokteran swasta yang masih menerima mahasiswa kedokteran di atas 35 tahun ( case terburuk karena saya harus mengumpulkan uang dulu dan well harus diakui itu tidak membutuhkan waktu yang sedikit. Dan saya pun mencari dan sampailah saya pada UPH di Jakarta dengan biaya yang fantastis. Yah well, saya gak masalah dengan biayanya. Saya bisa mencarinya lewat usaha dan beberapa program arisan untuk crypto. Yah, saya memang sudah mengikuti beberapa yang menjanjikan besaran uang yang disimpan dan diambil akhir periode lumayan besar (Ini bukan proses pesugihan ya, bukan haram kok tapi menggunakan sistem mining. Saya sampai menghubungi admin UPH masalah pendaftaran kedok dan mereka mengiyakan masalah umur yang tidak dipersoalkan. Tapi kemudian niat saya batal karena melihat kurikulumnya. Intinya yah saya tidak sreg dengan kurikulumnya dan materi bertentangan yang harus dipelajari. Maka mencarilah saya universitas lain di Indonesia. Ke UHT Surabaya. Saya tahu sekolah ini dari salah satu youtuber kedok juga yang kebetulan sekolah di sana dan saat ini masih menjadi mahasiswa di sana. Saya tanya adminnya dan mereka tidak masalah dengan umur. Saya senang bukan main. Tapi kemudian harapan saya jatuh. Mereka mensyaratkan calon mahasiswa haruslah lulusan SMA IPA atau SMK Kesehatan. Rasanya kayak ditimpuk batu di belakang kepala saya.
Dan malam itu saya menangis, meratapi nasib (Hahaha). Mengutuki takdir dan jalan hidup saya. Mengutuk diri saya di masa lalu dengan keputusannya yang sekarang membuat saya menderita. Dan kenapa baru sekarang mimpi ini membunuh saya secara perlahan. Membuat saya selalu menatap lama seorang dokter. Menatapi mereka sampai mungkin mereka juga merasa risih (Hehehe, maaf ya). Setelah lama melihat, saya mengimajinasikan diri saya di posisinya, dan kemudian saya berpaling meneguk ludah dan menghela nafas dan merasa mata saya panas dan dada saya sakit. Proses mengutuki diri pun terulang terulang dan terulang lagi. Tidak ada rasa ikhlas di sana.
Bahkan saat teman saya SD (seorang dokter) menikah, saya hanya bisa mengeluh ke ibu saya kalau saja saya juga dokter mungkin sekarang saya juga sudah menikah. Karena kalau dokter kan memang banyak yang antri. Ketika ibu saya cerita tentang orang di kampung yang sempat ke rumah istrahat karena praktek magang kedokteran di kota saya, saya hanya bisa kesal dan mendengar saja namun sebenarnya saya hanya menjawab seadanya perkataan ibu saya. Dalam hati saya kesal, sangat kesal. Jika dunia punya mesin waktu mungkin saya akan ke masa lalu merubah semuanya. Berkata pada diri saya di masa lalu kalau jangan memilih SMA itu, kamu punya cita - cita lain kan ??
Tapi itu kan tidak mungkin karena masa lalu juga tidak bisa di ubah. Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang. Karena saya tipe orang yang tidak bisa segampang itu melupakan sesuatu. Bukan tipe orang yang akhirnya mengalah dengan keadaan dan mimpi jika mimpi itu tidak terwujud. Jadi apa ? Hahaha, entahlah mungkin suatu saat mimpi saya akan terwujud. Saya masih boleh percaya kan ??
Meski saya akan terus dengan perasaan bersalah saya seumur hidup karena mengambil pilihan salah, maka biarkan setidaknya saya jadi orang yang hidup dengan mimpi yang mustahil......
Komentar
Posting Komentar