Karena Saya Juga Manusia, Terlebih Wanita

Hai, akhirnya nulis lagi. Sebenarnya gak pengen sih, tapi yah apa mau dikata kondisi mental lagi gak baik. Dan yah, ada seorang teman yang bilang kayak gini "Mungkin dengan menulis, seharusnya bisa lebih lega"- (Kalimat persisnya, saya tidak tahu tapi terdengar seperti itu). Karena banyak hal dan lain hal, semua chat saya dan dia saya hapus karena saya merasa aneh saja. Lebih tepatnya, mungkin saya ingin terbebas dari perasaan aneh yang saat itu tetiba menyerang saya saat dia tanya sesuatu yang menurutku ganjal untuk ditanyakan seorang teman. Meski pada awalnya, saya ladeni karena saya- maaf ada rasa iba padanya yang tidak terkoneksi. Namun sekarang rasanya saya jadi mengasihani diri sendiri karena pemikiran itu. Yah, yang patut dikasihani di sini adalah saya (seorang makhluk yang malang)

Ok, langsung pada intinya tulisan ini. Mengapa judulnya seperti itu ?
Kemarin, sehabis pulang dari kantor karena ada kegiatan di luar, maag menyerang saya. Lain daripada sakit yang biasanya. Kali ini sangat dahsyat (ye ileh) lebay deh. Saya langsung merasakan dingin dan sakit perut mendadak plus sakit belakang. Rasanya tulang belakangg saya mau remuk dan kepala rasanya berputar-putar. Sebenarnya sakit itu mulai terasa dari pagi. Setelah malamnya, saya masak hati ayam yang hanya dibumbui jeruk. garam dan lada lalu ditambah air, Sangat simple dan sukses membuat saya mulai merasakan perut yang tidak enak rasanya. Karena tidak nyaman, saya memaksakan diri untuk merasa nyaman (ini bahasanya kok aneh). Istilahnya apa ya, sok kuat mungkin. Karena kalau tidak begitu saya akan down lagi. Hidup sendirian harus kuat. Hehehe.

Masalahnya paginya, tepat habis salat subuh, perut saya sakit lagi. Saya mengejang kesakitan tapi yah begitulah. Saya hanya berdoa dan berharap lekas sembuh (pikiran saya juga terbagi, kalau sakit tukin saya gimana, hahaha). Alhasil, saya hanya minum promag 2 biji dan sakitnya mulai hilang sedikit. Paginya sehabis tidur, badan saya lemas. Tapi yah , dengan mantra "Saya bisa, ingat tukin. Rencanamu untuk mama papa adikmu harus kamu perjuangkan. Kamu gak boleh sakit !!). Miris....

Saat beli sarapan, saya merasa bertaruh dengan nyawa. Bagaimana tidak, saat di atas motor. Saya merasa kepala saya berdengung, badan lemas. Tapi, yah seperti yang sudah-sudah "Saya pasti bisa, tidak apa. Semua bisa di atasi".

Dan alhasil saat sore, seperti yang saya sebut di atas tadi. Akumulasi kesakitan itu menjadi. Dengan pemicu parfum dan rokok yang saya cium, kambuh lah maag saya. Good job. Tak tertahankan, karena memiliki tanggung jawab atas tugas, sembari di rumah saya menelpon salah satu teman di kantor yang kebetulan hari ini sedang dinas. Saya tanya pendapatnya, dan dia akhirnya memberi solusi untuk tidak pergi. Malam itu, saya hanya makan makanan yang sudah saya beli, setelah sebelumnya berharap bisa memakan makanan masakan hotel (kan lumayan gratis. Hehehe)

Agak sedikit malam, saya membaca kabar di grup sekolah WA, katanya kampung halaman saya kena gempa. Alhasil, dengan tubuh terbaring lemah di ranjang. Saya menelpon orang tua. Tepatnya ibu. Saya tanya apakah terjadi gempa, dia bilang semua baik - baik saja. Dan mengabarkan saya bahwa adik saya sakit. Bell palsy tepatnya. Karena pengaruh kipas angin dan stress akibat belajar terus menerus, wajahnya tidak bisa di gerakkan. Andai saja, saat itu saya juga tidak sakit mungkin saya bisa merespon bijaksana seperti biasa ( apaan ), saya yang menebak sakitnya bell palsy, tidak bisa saya sembunyikan rasa khawatir saya, saya beri saran kepada orang sakit sementara saya juga dalam posisi sakit. Saya tidak ingin bilang kondisi saya, sungguh. Sebisa mungkin saya ingin hanya saya yang merasakannya. Karena ini hanya maag, bukan apa-apa dibanding penyakit saudara saya yang lain. Saya tidak akan mati karena penyakit ini. Itu yang selalu dikatakan dokter, mereka hanya bilang pengaruh kurang makan, telat makan dan lain - lain (meski saya berharap saya bisa sakit yang bisa membuat kedua orang tua saya menangis, hahaha).

Entahlah, pembicaraannya seperti apa sampai akhirnya saya bicara juga. Mungkin saya kesal, saat saudara saya yang lain (penyakitnya parah. Misal adik saya kena bell palsy, kakak saya yang pertama pernah dioperasi karena usus buntu dia juga asma, kakak saya yang kedua meninggal karena ginjal, lalu saudara perempuan saya asma akut berkali - kali masuk rumah sakit). Cuma saya yang sehat (sekali masuk rumah sakit sih hanya jadi terdengar konyol karena tidak cukup sehari saya sudah pulang pusing pikirkan biaya rumah sakit. Miris sih tapi yah begitulah saya. Intinya menyedihkan). Intonasi nada mama ketika anaknya yang lain sakit sangat kentara cemasnya, namun ketika saya entahlah. Kalau tidak usah pergi menjenguk dia memilih untuk tidak pergi karena saaat perdana saya masuk rumah sakit, saya bahkan memohon dengan sangat agar mama bisa datang. Meski saat itupun, dia malah lebih banyak cerita ke saya tentang penderitaan kakak perempuan saya, minta saya untuk memakluminya. Entahlah

Jadi kembali ke pembicaraan saya dengan mama via telepon. Saya bilang saya sakit, saya ceritakan kronologinya setelah sebelumnya saya mendengar mama eerocos kalau adik saya sakit. Dia khawatir. Saya tenangkan. Saya beri saran. Saya berjanji akan liat via internet obat herbal nya. Entah bagaimana, saya mengeluh stressnya hidup sendiri. Betapa saya harus minta maaf dengan emosi saya yang meledak 'minta diperhatikan' juga karena saya sakit. Saya bilang alangkah bagusnya saya berhenti kerja saja. Saya lelah, sungguh. Kerja menguras tenaga saya. Saya ingin berkembang dan sekolah lagi. Tapi part sekolah saya tidak ceritakan ke mama.

Alhasil mama marah. Saya bisa rasakan nadanya meninggi. Ada hal yang saya perhatikan, setiap kami via telpon saya mengungkit masalah berhenti kerja nada mama pasti meninggi. Dia bilang seharusnya saya tidak menutup diri. Seharusnya saya bisa lebih dekat dengan bibi saya di sini. Seharusnya saya bisa berubah agar saya bisa diurus keluarga. Saya disalahkan atas sifat saya yang anti sosial (meski saya meng-elegankan kata itu dengan istilah introvert, hahaha). Meski tidak mengatakannya, saya bisa merasakan seolah - olah mama membandingkan saya dengan kakak perempuan saya yang lebih supel, lebih menarik, lebih cerah, lebih percaya diri, lebih membanggakan. Jujur, setiap mama mengungkit sifat saya yang 'itu', saya selalu tanpa kendali mengingat kakak perempuan saya yang lebih segalanya dari saya. Dan itu membuat rasa percaya diri saya hilang. Betapa kehadiran kakak saya bisa menimbulkan perasaan tidak berharga bagi diri saya pribadi. Dan saya tahu ini salah. Sejak kecil, mama selalu membanggakan kakak saya ke semua keluarga saya. Selalu saja ada cerita istimewa tiap saya ketemu dengan bibi atau paman saya terkait kakak saya ketika kecil. Katanya dia itu mesti milih bajunya sendiri - kata bibi saya dengan wajah sumringah mengingat masa lalu. Dan saya hanya bisa tertawa canggung. Tidak ada kenangan tentang saya dibenak sanak saudara. Karena memang sedari kecil, saya hanyalah aksesoris saja di keluarga. Bahkan ketika mereka melihat saya, mereka masih bertanya siapa itu ? Hahaha.

Jadi kadang itulah mengapa saya agak malas berhubungan dengan sanak keluarga yang lain, merek melihat saya sebagai adiknya kakak saya. Itu menyebalkan sungguh. Belum lagi, kalau mereka melihat saya yang jarang bicara, lengkaplah sudah mereka mengabaikan saya.

Kembali ke percakapan saya dengan mama, nada mama meninggi. Dia mendikte semua kesalahan sifat saya. Memang tidak bilang secara gamblang. Namun seolah - olah, dia bisa mengatakan kamu sakit yah salahmu sendiri karena tidak bisa sosialisasi. Kakakmu dulu sakit ada yang urus. Jadi yah, kami juga disini tidak bisa berbuat apa - apa. Saya syok. Saya bilang seandainya saya tidak sakit mungkin itu tidak akan terasa sakit. Tapi saya sakit, jujur saya bisa atasi semuanya sendiri. Itulah saya, si strong woman yang bahkan tidak dihargai. Saya hanya berharap mama bisa mendengar keluhan saya atau mengatakan kalimat yang lebih bisa di terima akal dan hati saya ketika sakit

Saya bilang ke mama, "Ma, saya lagi sakit kadang saat keadaan seperti itu semua terasa berat. Saya tidak bisa terlalu banyak minta tolong di orang karena saya tidak mau merepotkan mereka" dan mama saya kembali mencerocos menyalahkan. Emosi saya meledak. Saya makin tidak merasa berharga. Seolah - olah saya bukan anak yang diinginkan.
Saya tidak tahu kalimat itu dari mana, Tapi saya tidak pernah merencanakan mengatakan hal tersebut. "Ma, saya tidak minta apapun. Apakah hanya mendengar saya mengeluh sulit ? Apa pernah saya minta di sayang ? Seandainya saya tidak sakit, saya tidak bakal begini. Saya juga jarang mengeluh, tapi kali ini rasanya sakit sekali. Saya tidak pernah minta diperhatikan. Cuma dengar saja, susah sekali ?" Saya ingat saat itu saya tidak menangis tapi saya tahu saya kecewa. Dan mama saya akhirnya diam. Karena ada jeda yang cukup lama, akhirnya saya merasa lain. Dan memaksakan diri membahas adik saya. Saya bilang dia harus diperhatikan. Jangan tidur lagi dengan kipas,biasakan. Dan akhinya mama saya bicara dengan lancar tentang adik saya. Jujur, saya ingin mama bilang ke saya "Istrahat, jaga makan. Jangan terlalu lelah dengan tulus ke saya" . Cuma itu yang ingin saya dengar setelah sekian lama, saya terbiasa untuk tidak memberi kabar soal kondisi saya (karena kebetulan, mama menelpon saya ketika sedang kesal dengan papa, sepupu, kakak perempuan saya, adik saya, kakak laki - laki saya atau minta bantuan" Untuk kabar saya, dia hanya bilang 'baik, kan ?" Sudah ya " Setelah dia mengeluh sana sini.

Percakapan kami membuat saya lelah. Saya pun bilang "Ma, saya lelah. Sudah ya". Sambungan terputus karena saya sempat dengar mama bilang di tv ada berita gempa. Bahkan pembicaraa dengan saya masih di sandingkan dengan tv. Hahaha.

Sesudah menelpon, saya terbaring di ranjang. Berpikir tapi tidak menangis. "Semua baik - baik saja" pikir saya. Tapi saya tahu ada yang aneh setelah saya habis bicara dengan mama. Entahlah, kecewa, tidak berharga kembali menyerang saya.

Dan keesokan harinya saya jadi tidak semangat. Saya tidak makan siang, saya lemas. Tidak ada keinginan apapun. Alasan saya tetap bekerja adalah salah satunya mama saya. Ketika dia mengatakan itu saya benar - benar kecewa. Sangat. Seharian saya hanya bisa mengingat masa lalu, betapa saya tidak diperlakukan adil kembali menyerang saya. Masa - masa kecil saya sebagai "anak yang tidak terlihat" kembali menghantui. Tidak berharga, tidak diinginkan membuat nafsu makan saya hilang meski sakit kepala dan tulang belakang saya menyerang tanpa ampun. Saya hanya ingin hilang, karena bahkan orang yang menjadi alasan saya tetap bertahan justru menganggap saya tidak berharga. Lalu apakah saya mesti hidup ? Sebenarnya untuk apa saya hidup. 26 Tahun dan masih berharap ibu saya lebih memperhatikan saya ketika saya datang. Bukan hanya terus - terusan membahas kakak,adik dan keluarga nya yang lain. Apakah mama tidak merindukan saya ? Ketika saya pulang dan mama hanya bilang "Kenapa kamu pulang, ada uang?". Dan ketika kakak saya bilang mau pulang kampung. Mama membesar - besarkannya seolah anak kesayangan mama akan pulang setelah lama tidak bertemu ? Ke saya lagi ceritanya. Apa mama tidak pernah berpikir perasaan saya saat mendengarnya ?

Dan sore tadi, saat di kloset saya tergelincir. Kaki, panggul saya menghantam kloset duduk itu. Luar biasa sakitnya. Saat itulah saya menangis. Saya berkata dalam hati "Maag belum sembuh, saya harus kena sakit badan lagi". Saya menangis, bersuara, di atas kloset duduk, di dalam kamar mandi dengan sendi kaki menghantam ujung dinding, sakit sekali, tangan saya memar. Kaki saya sulit digerakkan. Saya membayangkan andai saya jatuh di dalam kamar mandi, terpeleset dan mati. Saat itu saya bersyukur dan di saat bersamaan saya juga sedih. Betapa saya menghemat untuk diri saya agar punya simpanan untuk adik saya kuliah (seharusnya saya tidak nulis ini), betapa setiap ucapan ibu saya aminkan. Saya bilang "Tenang saja, saya bisa diandalkan" Jangan khawatir. Betapa saya menyadari saya menempatkan keluarga saya di atas segalanya. Ketika teman saya menyatakan suka ke saya, saya hanya bisa menolaknya. "Saya punya prioritas dan menikah harus di tunda" "Kewajiban saya sebagai anak, harus di dahulukan. Betapa saya sudah tidak tahu lagi untuk apa saya berusaha. Ketika saya mendefinisikan kebahagian sebagai membahagiakan orang lain yang bahkan entahlah melihat niat saya mungkin sebagai sesuatu yang berlebihan. Ketika saya terus - terusan di kritik karena menjadi diri sendiri oleh pihak yang seharusnya mendukung saya sepenuhnya. Apa jika saya tidak bekerja, kalian masih menganggap saya anak ?

Pikiran itu berkecamuk dalam otak saya. Ketika saya sudah bisa meraih pijakan untuk berdiri dengan susah payah. Saya menskip makan malam karena rasa sakit hati saya sudah membuat saya kenyang. Saya kesal, marah dan kecewa. Apakah mungkin ketika saya mati, kalian baru bisa menangisi saya? Pemikiran itu berkali - kali menyerang saya, itulah mengapa saya menulis. Mungkin kalau saya menulis, saya bisa jadi diri saya yang kuat lagi. Setelah sakit, ada rasa lega. Setelah menangis menulis ini, saya berharap besok saya bisa membuat teh panan dengan gula lalu makan sarapan dengan oat. Bisa memaksa saya untuk tetap kuat meski rasanya sakit.

Bisa mengurus diri sendiri, meski kaki saya terpincang - pincang. Bisa sembuh dari rasa sakit fisik saya karena kata orang semakin kita down semakin parahlah sakit kita. Jadi saya menulis ini sambil menangis, mengatakan pada diri saya "Bahwa saya manusia, terlebih saya wanita. Saya diciptakan lemah, saya diciptakan untuk diperhatikan, saya berharga meski untuk diri saya sendiri, saya juga bisa sakit, bisa jatuh, badan saya lemah". Karena tidak ada yang mengatakan pada saya, saya akan mengatakan pada diri sendiri.  " Tetap semangat, my self. Jadi versi terbaik dirimu meski sulit"

Ma, saya berharap mama lebih perhatian ke saya, karena saya juga anak mama. Tolong cintai saya apa adanya. Karena inilah saya. Makhluk anti sosial yang aneh. Saya juga bisa terluka dengan ucapan menyakitkan seperti  itu. Saya tau orang tua tidaklah sempurna. Tapi ketika saya sakit, bolehkah saya juga diperlakukan 'manja' seperti anak mama yang lain ? Bolehkah saya berharap mama membagi rasa khawatir mama ke kakak perempuan saya sedikit untuk saya? Bolehkah saya meminta hak saya sebagai anak untuk diperhatikan yang dulu tidak saya dapatkan ?

Saya manusia biasa. Apa yang dicari manusia sebenarnya hanyalah cinta dan penerimaan. Saya mencurahkan dan mengorbankan segalanya demi keluarga, apa saya tidak bisa mendapat hal kecil berupa perhatian itu ? Sesusah itukah ?

Jalan ini benar - benar berat. Sungguh. Saya letih terkadang. Saya ingin tidur sejenak. Saya ingin berhenti dan bersandar pada seseorang. Dan menangis sepuasnya. Bolehkan ? Karena saya juga manusia dan wanita. Saya tidak sekuat yang semua orang pikir.........



##13 April 2019. Ketika saya melihat jam pukul 23.32 WIT, tiba - tiba saya berpikir untuk menonton Happy Together dengan mata merah berair dan hidung yang sembab. Moga besok saya tidak kena flu dan bisa punya semangat untuk sarapan. Karena banyak yang harus saya kerjakan dan saya tidak bisa terus seperti ini. Good Job, my self !! Saya tahu kamu pasti bisa. Meski berat, teruslah berusaha !!

(Moga gak ada yang baca!!!Huuhuhuuuu!!)


Komentar

Postingan Populer