Mungkin dulu itu cuma ilusi. Betapa saya berharap seperti itu
Hai. hai. akhir - akhir ini jadi sering nulis nih. Semenjak susah untuk berhubungan dengan teman curhatku, jadilah saya curhat di sini. Lumayan lah, ada tempat pelampiasan emosi daripada di simpan. Dan kadang hal yang baru saya sadari, ternyata ketika saya menulis saya lebih bisa tenang karena masalah selesai dengan caraku bukan dengan cara temanku yang yah menurutku kurang tepat. Hal yang tidak bisa disalahkan ke siapapun, karena yah tidak ada manusia yang benar - benar mengerti orang lain. Dalam kasusku yang punya rasa panik dengan orang (bahasa kasarnya anti sosial alias kuper alias introvert), rasanya menceritakan semuanya ke orang jadi kurang berfaedah. Dan kebanyakan dalam kasusku, ketika saya mau bercerita mengeluarkan unek - unek, jadilah orang lain yang malah cerita ke saya (dari tujuan curhat lah jadi tujuan listening dan untuk hal yang sama selama berhari - hari, seolah - olah masalah itu hanya terus - terusan di replay tanpa akhir yang jelas yang jujur saya agak kurang suka cara penyelesaian seperti ini)
Tapi kalau di bilang tidak suka sebenarnya tidak juga sih. Ketika mendengar manusia lain bicara, ada perasaan menyenangkan juga. Well dari mendengar kita bisa memahami dan dari memahami, kita jadi tahu kalau manusia itu unik, Kalau manusia itu semuanya berbeda. Kalau teori Myers - Brigg terlalu terbatas menggambarkan tipe manusia hanya 16 jenis, terlalu sederhana.
Baiklah, mungkin malam ini kita bahas cinta. Ce ileh.....
Gimana ya, mungkin seperti cerita saya tempo hari ketika saya cerita kalau ada yang nembak saya (yang berakhir tidak menyenangkan, karena jujur saja saya menganggap dia hanya anak - anak). Saya jadi paham kalau ternyata diri ini bukan tipe cewek yang gampang jatuh cinta. Saya jadi bertanya tanya sampai kapan ini bakal berlangsung dan akhirnya saya menyerah untuk memikirkan hal yang tidak jelas arahnya itu alias rahasia Tuhan.
Tapi saya masih ingat saya pernah suka orang. Maaf karena selama ini, sayalah yang dikejar orang (sombong dikitlah, kalau saya juga laku di kalangan kaum lawan jenis saya). Saya juga tidak tahu mengapa mereka suka dengan tipe cewek keras seperti saya. Bukannya lk lk itu suka dengan cewek yang lembut, softy, girly dan bla bla bla dan itu semua tidak ada di saya. Memang sih saya pendiam tapi saya bisa jamin saya gak girly. Hahaha. Anggap saja mereka suka saya karena salah kesan pertama.
Kembali ke istilah saya pernah suka orang. Saat itu saat saya kelas 2 SMA. Hahaha. Kalau dipikir - pikir lagi rasanya lucu ketika saya mengingat perilaku saya saat itu. Hahaha. Beneran seperti bukan saya saja. Kalau diingat - ingat lagi, saya selalu tertawa ketika perasaan itu kembali membekas di memori. Saya bahagia karena pernah merasakannya. Sungguh. Saya hanya ingin berterima kasih karena pernah buat saya jadi cewek juga.
Tapi apa kami jadian ? Tidak, sayangnya rasa suka saya hanyalah cinta bertepuk sebelah paha (eh salah, tangan). Intinya saya suka dia, dia suka orang lain (yang lebih cantik, lebih girly, lebih gaul, lebih lembut, lebih kreatif, lebih seni tinggi) di banding saya (yang apalah hanya butiran debu terbang melintas gak balik - balik). Intinya saya serba kekurangan jadi yah tahu dirilah gak bakal disejajarkan sedikitpun. Tapi saya tetap nekat mengatakan ke dia dan alhasil saya ditolak. Malam itu saya menangis, kami sms an lewat hape orang lain. Saya bersyukur sudah suka ke orang yang tepat (karena sampai detik ini, kabar saya suka sama dia tidak pernah keluar dari mulutnya) Hehehe, makasih ya. Entah gak tau ya, kalau sampai dia bicara entah muka ini mau di buang kemana. Toh waktu saya bertemu dengan dia lagi, 3 tahun setelah kami lulus, saya tidak berani liat dia. Bukan suka sih cuma yah saya malu saja kok dulu keberanian itu muncul dari mana (dengan mental pengecut seperti saya waktu itu, itu hal yang menakjubkan)
Tapi saya masih ingat perasaan itu. Saat ketika dia duduk di samping saya untuk cerita (meski ini hnaya sekali) tapi saya masih ingat detail kejadian itu. Saya masih ingat, saya tidak peduli dengan teman yang biasa cerita ke saya dan malah fokus ke dia. Pembicaraannya menarik.
Saya ingat ketika kami pisah kelas, dan saat itu siang saya habis nonton drama jepang "ada letters - lettersnya) dan saya nangis sampe mata saya bengkak. Saya lewat di sampingnya saat dia bicara dengan teman saya. Saya bisa rasa matanya melirik saya (hahaha, kepedean)
Ketika kami praktek bersama adalah saat paling berkesan. Tapi momen yang saya abadikan malah hilang entah kemana. Dan waktu melihat foto itu, saya jadi sadar dia tidak ada perasaan ke saya atau mungkin itu hanya euforia saja, karena wajahnya terlihat kesal atau mungkin dia menganggap remeh saya (atau tidak melihat saya sebagai perempuan)
Ada juga saat saya dan orang yang dia sukai sama - sama mendaki gunung. Dia menawarkan untuk menarik saya (yang artinya kami berpegangan tangan) tapi saya tolak dengan ketus (tentu saja saya malu ,tolol) dan dia kelihatan bete dan beralih ke orang yang dia suka menawarkan bantuan dan gadis itu mau dan dia tersenyum malu (di situ saya jadi tau saya hanya umpan, huaaaaa kok miris)
Ada saat dimana saya lari pagi bersama dengan teman akrab saya tapi yah saya capek dan mulai jalan perlahan. Saya benci lari pagi sampai saat ini. Dan dia dengan gerakan lambat berhenti di samping saya alias lari di tempat. Hahaha. Gerakan slow motion. Jadi ingat, saat itu jantung saya rasanya mau meledak tapi saya kembali pasang poker face. Buang muka, tidak bicara, pura - pura bodoh kalau dia ada di situ. Dia tidak ajak bicara yah saya mau apa. Mulai bicara ?? Dan dia akhirny lanjut lari lagi dengan ekspresi yang sepertinya kesal. Hahaha. Padahal saat itu, muka saya rasanya panas, perut saya sakit dan jantung saya mau melompat. Ingin rasanya lompat ke selokan (ehh, ini apaan)
Yah, euforia suka seseorang memang unik. Ketika saat itu teman - teman wanita saya cuma beberapa orang yang tahu. Ketika mereka bertanya "Kalau orang yang kamu suka, balik suka ke kamu dan akhirnya kalian pacaran ?" Saya tegas menjawab "Saya tidak mau pacaran. Saya cuma kagum saja. Saya tidak ingin merubah status itu". Hah, lucu. Saat itu saya benar - benar polos. Saya kagum dengan dia dalam pikiran saya. Image yang saya bentuk di kepala saya tentang dia begitu perfect. Dia perfect tapi yah pasti aslinya dia banyak kekurangan kan ?
Ada lagi. ada lagi. Saat itu, malam sebelum saya akan masuk dunia kerja. Dia sempat duduk bersama saya di teras kamarku. Saat itu, ada orang dari sekolah daerah lain mendekati saya dia ajak saya cerita. Kami cerita dan dia datang. Kamu tahu, saat itu saya langsung tidak fokus. Beneran tidak fokus. Saya cerita dengan orang itu hanya sebentar dan berakhir saya malah simak dia bicara. Kayaknya ini sebelum saya mengungkapkan ke dia. Masalah mengungkapkan itupun mungkin karena saat itu malam perpisahan untuk sekolah kami dan saya melihat begitu banyak orang yang menuntaskan perasaan mereka ke orang yang mereka sukai (bahkan ada yang sampai nangis, hehehe). Mungkin karena itu, makanya saya punya keberanian. Dan tentu saja berkahir tragis. Saya bilang suka dan dia malah bilang kalau dia suka orang lain. Yah, satu sekolah sudah tahu dia suka siapa, saya saja yang terlalu berani untuk bilang ke dia. Saat itu masih piala dunia kalau tidak salah, dan saat itu ada yang sedang sms saya juga bilang suka ke saya tapi saya malah ke dia. Kan lucu. Saya tidak mempedulikan orang yang suka ke saya dan malah bilang suka ke orang lain yang juga suka ke orang lain.
Lalu apa dia dan gadis yang dia sukai bersama ? Sayangnya tidak. Gadis itu sudah menikah dengan pacarnya . Jadi kisah kami sangat rumit. Ada orang yang melihat saya, saya melihat ke dia, dia melihat ke gadis yang sudah status milik orang. Kami terjebak dalam sebuah rantai "menyakiti diri sendiri"
Yang saya kadang sesalkan adalah dulu waktu masih sekolah, saya punya kebiasaan menghancurkan diri sendiri. Itulah yang saya sesalkan. Seandainya dulu saya tidak berhenti jadi diri saya sendiri. Seandainya dulu, saya tetap jadi diri saya seperti yang teman saya katakan. Apa saat itu saya harus merasakan rasa suka itu ? Makanya sekarang rasanya saya bertanya - tanya apakah rasa itu benaran original atau tidak. Apakah itu hanya oase atau memang pure ?
Saya sebenarnya ingin bertemu dia lagi. Yah hanya untuk memastikan kalau saya ada rasa (waktu dulu). Tapi di satu sisi saya juga takut. Saya tidak ingin perasaan, kenangan lama itu hancur begitu saja. Saya ingin dia tetap seperti apa yang saya bayangkan tentang dia. Jadi pada intinya mungkin saya ini pengecut, malah sangat.
Ketika dewasa, kamu semakin takut kenal dengan orang. Jadi biarkan saya mengenangnya dalam alam bawah sadar saya. Kalau saya dulu pernah mengagumi kamu. Kamu yang dulu atau kamu yang saya bentuk di kepala dan hati saya dulu. Bukan yang sekarang. Ketika saya di bilang keras oleh semua laki - laki yang pernah menyukai saya, ketika mereka bilang saya tidak punya hati. Saya bisa dengan bangga bilang "Saya juga pernah kok, suka orang lain".
Hal yang sebenarnya sangat memalukan. Ya ampunnnn......Rasanya lelah dikritik tanpa bisa membalas. Jadi biarkan saja saya, saya juga pernah suka orang. Kan saya perempuan, wajar kalau pernah punya orang yang disukai. Saya benar - benar minta maaf karena harus terus menjadikan kamu kenangan pahit sekaligus pembelajaran bahwa saya juga manusia. Karena dengan bertambahnya umur, saya jadi tidak paham lagi "rasa suka" itu seperti apa. Senang menyukai seseorang itu seperti apa. Dan terima kasih sudah membuat saya jadi anak SMA yang normal. Yang punya kesempatan untuk mengagumi kamu. Moga kamu selalu bahagia karena saya yakin dengan sifatmu yang masih saya ingat dulu kamu adalah orang yang mudah bergaul dan asyik (kamu pasti selalu bahagia karena di kelilingi dengan orang yang benar - benar peduli kamu). Maaf karena setelah 3 tahun ketemu saya tidak bisa memperlakukan kamu dengan normal. Kita hanya bicara sedikit dan saat itu saya sadar kamu cuma masa lalu. Bahkan hanya percakapan beberapa menit, saya jadi sadar rasa itu sudah hilang. Tapi saya tetap berterima kasih kok (kadang saat ini, ketika ada yang bilang suka ke saya dan saya tolak dan kemudian mereka meraung bilang "saya tidak punya hati") Saya sering mengingat perasaan ketika saya kagum ke kamu dan saya tahu ucapan mereka tidak benar. Bahkan untuk sekarang perasaan itu masih membantu saya. Saya benar - benar berterima kasih karena sudah hadir dan kita saling kenal. Meski saya tahu, saya bahkan tidak masuk dalam jangkauan orang yang kamu anggap.
Moga kamu gak baca tulisan ini. Biarpun baca, saya sudah bilang kan "rasa itu sudah hilang kok". Saya cuma suka kamu yang hidup di masa lalu yang menurut versi saya sendiri. Punya orang yang disukai ketika kita puber itu hal yang normal. Jadi kepada siapa saja yang bilang saya hati batu, yang bilang saya gak pernah suka orang. Kasian. Woiii,saya pernah punya orang yang saya sukai dulu dan saya berharap dia cepat dapat jodohnya dan hidup bahagia. Maaf ya,....
Jadi apa hubungan judul di atas dengan tulisan ini, Hahaha, gak tauuu
Tapi kalau di bilang tidak suka sebenarnya tidak juga sih. Ketika mendengar manusia lain bicara, ada perasaan menyenangkan juga. Well dari mendengar kita bisa memahami dan dari memahami, kita jadi tahu kalau manusia itu unik, Kalau manusia itu semuanya berbeda. Kalau teori Myers - Brigg terlalu terbatas menggambarkan tipe manusia hanya 16 jenis, terlalu sederhana.
Baiklah, mungkin malam ini kita bahas cinta. Ce ileh.....
Gimana ya, mungkin seperti cerita saya tempo hari ketika saya cerita kalau ada yang nembak saya (yang berakhir tidak menyenangkan, karena jujur saja saya menganggap dia hanya anak - anak). Saya jadi paham kalau ternyata diri ini bukan tipe cewek yang gampang jatuh cinta. Saya jadi bertanya tanya sampai kapan ini bakal berlangsung dan akhirnya saya menyerah untuk memikirkan hal yang tidak jelas arahnya itu alias rahasia Tuhan.
Tapi saya masih ingat saya pernah suka orang. Maaf karena selama ini, sayalah yang dikejar orang (sombong dikitlah, kalau saya juga laku di kalangan kaum lawan jenis saya). Saya juga tidak tahu mengapa mereka suka dengan tipe cewek keras seperti saya. Bukannya lk lk itu suka dengan cewek yang lembut, softy, girly dan bla bla bla dan itu semua tidak ada di saya. Memang sih saya pendiam tapi saya bisa jamin saya gak girly. Hahaha. Anggap saja mereka suka saya karena salah kesan pertama.
Kembali ke istilah saya pernah suka orang. Saat itu saat saya kelas 2 SMA. Hahaha. Kalau dipikir - pikir lagi rasanya lucu ketika saya mengingat perilaku saya saat itu. Hahaha. Beneran seperti bukan saya saja. Kalau diingat - ingat lagi, saya selalu tertawa ketika perasaan itu kembali membekas di memori. Saya bahagia karena pernah merasakannya. Sungguh. Saya hanya ingin berterima kasih karena pernah buat saya jadi cewek juga.
Tapi apa kami jadian ? Tidak, sayangnya rasa suka saya hanyalah cinta bertepuk sebelah paha (eh salah, tangan). Intinya saya suka dia, dia suka orang lain (yang lebih cantik, lebih girly, lebih gaul, lebih lembut, lebih kreatif, lebih seni tinggi) di banding saya (yang apalah hanya butiran debu terbang melintas gak balik - balik). Intinya saya serba kekurangan jadi yah tahu dirilah gak bakal disejajarkan sedikitpun. Tapi saya tetap nekat mengatakan ke dia dan alhasil saya ditolak. Malam itu saya menangis, kami sms an lewat hape orang lain. Saya bersyukur sudah suka ke orang yang tepat (karena sampai detik ini, kabar saya suka sama dia tidak pernah keluar dari mulutnya) Hehehe, makasih ya. Entah gak tau ya, kalau sampai dia bicara entah muka ini mau di buang kemana. Toh waktu saya bertemu dengan dia lagi, 3 tahun setelah kami lulus, saya tidak berani liat dia. Bukan suka sih cuma yah saya malu saja kok dulu keberanian itu muncul dari mana (dengan mental pengecut seperti saya waktu itu, itu hal yang menakjubkan)
Tapi saya masih ingat perasaan itu. Saat ketika dia duduk di samping saya untuk cerita (meski ini hnaya sekali) tapi saya masih ingat detail kejadian itu. Saya masih ingat, saya tidak peduli dengan teman yang biasa cerita ke saya dan malah fokus ke dia. Pembicaraannya menarik.
Saya ingat ketika kami pisah kelas, dan saat itu siang saya habis nonton drama jepang "ada letters - lettersnya) dan saya nangis sampe mata saya bengkak. Saya lewat di sampingnya saat dia bicara dengan teman saya. Saya bisa rasa matanya melirik saya (hahaha, kepedean)
Ketika kami praktek bersama adalah saat paling berkesan. Tapi momen yang saya abadikan malah hilang entah kemana. Dan waktu melihat foto itu, saya jadi sadar dia tidak ada perasaan ke saya atau mungkin itu hanya euforia saja, karena wajahnya terlihat kesal atau mungkin dia menganggap remeh saya (atau tidak melihat saya sebagai perempuan)
Ada juga saat saya dan orang yang dia sukai sama - sama mendaki gunung. Dia menawarkan untuk menarik saya (yang artinya kami berpegangan tangan) tapi saya tolak dengan ketus (tentu saja saya malu ,tolol) dan dia kelihatan bete dan beralih ke orang yang dia suka menawarkan bantuan dan gadis itu mau dan dia tersenyum malu (di situ saya jadi tau saya hanya umpan, huaaaaa kok miris)
Ada saat dimana saya lari pagi bersama dengan teman akrab saya tapi yah saya capek dan mulai jalan perlahan. Saya benci lari pagi sampai saat ini. Dan dia dengan gerakan lambat berhenti di samping saya alias lari di tempat. Hahaha. Gerakan slow motion. Jadi ingat, saat itu jantung saya rasanya mau meledak tapi saya kembali pasang poker face. Buang muka, tidak bicara, pura - pura bodoh kalau dia ada di situ. Dia tidak ajak bicara yah saya mau apa. Mulai bicara ?? Dan dia akhirny lanjut lari lagi dengan ekspresi yang sepertinya kesal. Hahaha. Padahal saat itu, muka saya rasanya panas, perut saya sakit dan jantung saya mau melompat. Ingin rasanya lompat ke selokan (ehh, ini apaan)
Yah, euforia suka seseorang memang unik. Ketika saat itu teman - teman wanita saya cuma beberapa orang yang tahu. Ketika mereka bertanya "Kalau orang yang kamu suka, balik suka ke kamu dan akhirnya kalian pacaran ?" Saya tegas menjawab "Saya tidak mau pacaran. Saya cuma kagum saja. Saya tidak ingin merubah status itu". Hah, lucu. Saat itu saya benar - benar polos. Saya kagum dengan dia dalam pikiran saya. Image yang saya bentuk di kepala saya tentang dia begitu perfect. Dia perfect tapi yah pasti aslinya dia banyak kekurangan kan ?
Ada lagi. ada lagi. Saat itu, malam sebelum saya akan masuk dunia kerja. Dia sempat duduk bersama saya di teras kamarku. Saat itu, ada orang dari sekolah daerah lain mendekati saya dia ajak saya cerita. Kami cerita dan dia datang. Kamu tahu, saat itu saya langsung tidak fokus. Beneran tidak fokus. Saya cerita dengan orang itu hanya sebentar dan berakhir saya malah simak dia bicara. Kayaknya ini sebelum saya mengungkapkan ke dia. Masalah mengungkapkan itupun mungkin karena saat itu malam perpisahan untuk sekolah kami dan saya melihat begitu banyak orang yang menuntaskan perasaan mereka ke orang yang mereka sukai (bahkan ada yang sampai nangis, hehehe). Mungkin karena itu, makanya saya punya keberanian. Dan tentu saja berkahir tragis. Saya bilang suka dan dia malah bilang kalau dia suka orang lain. Yah, satu sekolah sudah tahu dia suka siapa, saya saja yang terlalu berani untuk bilang ke dia. Saat itu masih piala dunia kalau tidak salah, dan saat itu ada yang sedang sms saya juga bilang suka ke saya tapi saya malah ke dia. Kan lucu. Saya tidak mempedulikan orang yang suka ke saya dan malah bilang suka ke orang lain yang juga suka ke orang lain.
Lalu apa dia dan gadis yang dia sukai bersama ? Sayangnya tidak. Gadis itu sudah menikah dengan pacarnya . Jadi kisah kami sangat rumit. Ada orang yang melihat saya, saya melihat ke dia, dia melihat ke gadis yang sudah status milik orang. Kami terjebak dalam sebuah rantai "menyakiti diri sendiri"
Yang saya kadang sesalkan adalah dulu waktu masih sekolah, saya punya kebiasaan menghancurkan diri sendiri. Itulah yang saya sesalkan. Seandainya dulu saya tidak berhenti jadi diri saya sendiri. Seandainya dulu, saya tetap jadi diri saya seperti yang teman saya katakan. Apa saat itu saya harus merasakan rasa suka itu ? Makanya sekarang rasanya saya bertanya - tanya apakah rasa itu benaran original atau tidak. Apakah itu hanya oase atau memang pure ?
Saya sebenarnya ingin bertemu dia lagi. Yah hanya untuk memastikan kalau saya ada rasa (waktu dulu). Tapi di satu sisi saya juga takut. Saya tidak ingin perasaan, kenangan lama itu hancur begitu saja. Saya ingin dia tetap seperti apa yang saya bayangkan tentang dia. Jadi pada intinya mungkin saya ini pengecut, malah sangat.
Ketika dewasa, kamu semakin takut kenal dengan orang. Jadi biarkan saya mengenangnya dalam alam bawah sadar saya. Kalau saya dulu pernah mengagumi kamu. Kamu yang dulu atau kamu yang saya bentuk di kepala dan hati saya dulu. Bukan yang sekarang. Ketika saya di bilang keras oleh semua laki - laki yang pernah menyukai saya, ketika mereka bilang saya tidak punya hati. Saya bisa dengan bangga bilang "Saya juga pernah kok, suka orang lain".
Hal yang sebenarnya sangat memalukan. Ya ampunnnn......Rasanya lelah dikritik tanpa bisa membalas. Jadi biarkan saja saya, saya juga pernah suka orang. Kan saya perempuan, wajar kalau pernah punya orang yang disukai. Saya benar - benar minta maaf karena harus terus menjadikan kamu kenangan pahit sekaligus pembelajaran bahwa saya juga manusia. Karena dengan bertambahnya umur, saya jadi tidak paham lagi "rasa suka" itu seperti apa. Senang menyukai seseorang itu seperti apa. Dan terima kasih sudah membuat saya jadi anak SMA yang normal. Yang punya kesempatan untuk mengagumi kamu. Moga kamu selalu bahagia karena saya yakin dengan sifatmu yang masih saya ingat dulu kamu adalah orang yang mudah bergaul dan asyik (kamu pasti selalu bahagia karena di kelilingi dengan orang yang benar - benar peduli kamu). Maaf karena setelah 3 tahun ketemu saya tidak bisa memperlakukan kamu dengan normal. Kita hanya bicara sedikit dan saat itu saya sadar kamu cuma masa lalu. Bahkan hanya percakapan beberapa menit, saya jadi sadar rasa itu sudah hilang. Tapi saya tetap berterima kasih kok (kadang saat ini, ketika ada yang bilang suka ke saya dan saya tolak dan kemudian mereka meraung bilang "saya tidak punya hati") Saya sering mengingat perasaan ketika saya kagum ke kamu dan saya tahu ucapan mereka tidak benar. Bahkan untuk sekarang perasaan itu masih membantu saya. Saya benar - benar berterima kasih karena sudah hadir dan kita saling kenal. Meski saya tahu, saya bahkan tidak masuk dalam jangkauan orang yang kamu anggap.
Moga kamu gak baca tulisan ini. Biarpun baca, saya sudah bilang kan "rasa itu sudah hilang kok". Saya cuma suka kamu yang hidup di masa lalu yang menurut versi saya sendiri. Punya orang yang disukai ketika kita puber itu hal yang normal. Jadi kepada siapa saja yang bilang saya hati batu, yang bilang saya gak pernah suka orang. Kasian. Woiii,saya pernah punya orang yang saya sukai dulu dan saya berharap dia cepat dapat jodohnya dan hidup bahagia. Maaf ya,....
Jadi apa hubungan judul di atas dengan tulisan ini, Hahaha, gak tauuu
Komentar
Posting Komentar