DI DUNIA INI HANYA BISA PERCAYA PADA DIRIMU SENDIRI
Hai, lama gak nulis. Hari ini rasanya berat banget bagi saya. Lelah rasanya sampai maag saya kambuh. Banyak pikiran yang lebih banyak disebabkan stress yang menumpuk atau karena saya terlalu bodoh untuk melawan semua kesakitan saya.
Hari ini tanggal 13 Februari 2020. Saya lelah dengan dunia. Tadi saya akhirnya menangis tapi setelah itu saya lega. Yaah, mungkin saya hanya tidak cocok untuk dunia orang ekstrovert. Saya tidak bisa memanipulasi hati saya, keadaannya, kesakitannya tidak bisa saya tahan. Negatife thingking selalu menyerubuti saya, tapi di saat yang sama saya terlalu mudah untuk tersentuh. Ketika saya di ajar untuk berhenti mengeluh tapi beban hidup saya tidak habis - habis.
Tadi saya bercerita dengan teman saya dan sesaat saat dia pergi untuk beli makanan, saya menangis seperti orang gila. Untuk minggu yang berat, itu pertama kalinya saya menangis seperti orang sinting. Serasa ditipu lagi dan lagi. Karena saya terlalu polos dan percaya bahwa manusia tidak akan berubah, nyatanya tidak dan itu menyakiti saya. Ketika kerja keras saya hanya bisa jadi bahan tertawaan, ketika sakit saya hanya dijadikan alasan, ketika orang mulai memanfaatkan saya karena saya hanya bisa diam dan seharian tidak berbicara.
inilah dunia introvert, meski saya tidak bisa seratus persen percaya hal itu. Pada akhirnya saya sadar saya seorang introvert. Teman saya bilang begitu. Dia bilang "untuk orang pendiam seperti kita, itu hal yang lumrah untuk disakiti. Jadi kita harus kuat". Sejujurnya, saya selalu belum terbiasa ketika orang bilang bertemanlah untuk kepentinganmu, pada kenyataannya saya tetap saja tidak bisa paham apapun. Karena saya selalu berusaha jujur dengan diri saya, maka saya selalu di sakiti. Ketika ketulusan saya hanyalah candaan bagi beberapa orang. Ketika rasa kecewa saya pada orang yang saya anggap teman hanya datang kepada saya ketika dia ada masalah dan ketika saya ada masalah, dia akan berusaha untuk menjauh dari hal itu. Bahkan kalau tidak terlibat, dia akan memilih begitu.
Begitupun keluarga saya. Dia bercerita tanpa henti dan bahkan ketika saya bicara dan tidak di dengar, saya hanya bisa jadi pendengar dan menyediakan telinga untuk mereka. Ketika senyuman orang lain ke saya tidak bisa saya lihat sebagai sesuatu yang menentramkan lagi. Jujur saya takut. Takut kalau ternyata mereka menertawakan saya sebagai bahan candaan karena saya terlalu diam. Karena saya tidak bersuara dan dianggap remeh, mungkin di belakang saya mereka menjadikan saya bahan candaan. Bully, mungkin saja mereka sebenarnya melihat saya dan tertawa karena saya terlihat sebagai sasaran empuk untuk di zhalimi. Menyakitkan untuk diri saya. Apa salahnya jadi orang yang diam ?? Moga aja kezaliman kalian Allah mengampuni dosa - dosa saya. Pemberat amal ibadah saya karena jadi beban dosa kalian. Karena hidup hanyalah untuk pasrah kepada Allah saja. Saya hanya bisa pasrah dan nangis di pojokan karena dengan begitu hati saya mudah - mudahan tidak kotor karena tidak menyakiti orang lain secara sadar kalaupun memang tanpa sadar, karena saya tidak ada niat maka hal itu batal. Maka barang siapapun yang melakukan kejahatan karena ada niat, maka dosa di tanggung orang tersebut. Bahkan walau kamu sering shalat dan terlihat alim, mungkin bisa saja semua pahala kamu gugur karena menyakiti orang lain. Saya harap semua manusia mendapat balasan sesuai perbuatannya. Moga kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan dan lega dengan dosa yang kamu tanam sendiri. Rasa sakit hati saya masih ada, meski saya coba untuk memaafkannya, namun luka itu tidak akan hilang.
Dan untuk kamu yang saya anggap sahabat, namun kamu hanya memanfaatkan saya ketika kamu butuh pendengar. Terima kasih telah ada untuk saya, tapi jujur saya kecewa karena ketika dengan orang banyak kamu akan menghindar dari saya, seolah kamu selalu merasa jijik dengan keberadaan saya di dekat kamu. Lucu ya ??
Dan untuk kamu yang selalu ada untuk saya, mendengarkan saya sepenuh hati. Selalu berusaha menjadi teman terbaik. Moga Allah panjangkan umurmu, dan beri kamu kebahagiaan. Moga kamu lebih panjang umurnya dari saya. Terima kasih karena selalu ada. Saya berharap saya bisa pergi duluan sebelum kamu. Dan moga Allah membantu saya dengan terus membiarkan kamu menemani saya sebagai teman karena saya masih sangat membutuhkan dukungan mental.....
Hari ini tanggal 13 Februari 2020. Saya lelah dengan dunia. Tadi saya akhirnya menangis tapi setelah itu saya lega. Yaah, mungkin saya hanya tidak cocok untuk dunia orang ekstrovert. Saya tidak bisa memanipulasi hati saya, keadaannya, kesakitannya tidak bisa saya tahan. Negatife thingking selalu menyerubuti saya, tapi di saat yang sama saya terlalu mudah untuk tersentuh. Ketika saya di ajar untuk berhenti mengeluh tapi beban hidup saya tidak habis - habis.
Tadi saya bercerita dengan teman saya dan sesaat saat dia pergi untuk beli makanan, saya menangis seperti orang gila. Untuk minggu yang berat, itu pertama kalinya saya menangis seperti orang sinting. Serasa ditipu lagi dan lagi. Karena saya terlalu polos dan percaya bahwa manusia tidak akan berubah, nyatanya tidak dan itu menyakiti saya. Ketika kerja keras saya hanya bisa jadi bahan tertawaan, ketika sakit saya hanya dijadikan alasan, ketika orang mulai memanfaatkan saya karena saya hanya bisa diam dan seharian tidak berbicara.
inilah dunia introvert, meski saya tidak bisa seratus persen percaya hal itu. Pada akhirnya saya sadar saya seorang introvert. Teman saya bilang begitu. Dia bilang "untuk orang pendiam seperti kita, itu hal yang lumrah untuk disakiti. Jadi kita harus kuat". Sejujurnya, saya selalu belum terbiasa ketika orang bilang bertemanlah untuk kepentinganmu, pada kenyataannya saya tetap saja tidak bisa paham apapun. Karena saya selalu berusaha jujur dengan diri saya, maka saya selalu di sakiti. Ketika ketulusan saya hanyalah candaan bagi beberapa orang. Ketika rasa kecewa saya pada orang yang saya anggap teman hanya datang kepada saya ketika dia ada masalah dan ketika saya ada masalah, dia akan berusaha untuk menjauh dari hal itu. Bahkan kalau tidak terlibat, dia akan memilih begitu.
Begitupun keluarga saya. Dia bercerita tanpa henti dan bahkan ketika saya bicara dan tidak di dengar, saya hanya bisa jadi pendengar dan menyediakan telinga untuk mereka. Ketika senyuman orang lain ke saya tidak bisa saya lihat sebagai sesuatu yang menentramkan lagi. Jujur saya takut. Takut kalau ternyata mereka menertawakan saya sebagai bahan candaan karena saya terlalu diam. Karena saya tidak bersuara dan dianggap remeh, mungkin di belakang saya mereka menjadikan saya bahan candaan. Bully, mungkin saja mereka sebenarnya melihat saya dan tertawa karena saya terlihat sebagai sasaran empuk untuk di zhalimi. Menyakitkan untuk diri saya. Apa salahnya jadi orang yang diam ?? Moga aja kezaliman kalian Allah mengampuni dosa - dosa saya. Pemberat amal ibadah saya karena jadi beban dosa kalian. Karena hidup hanyalah untuk pasrah kepada Allah saja. Saya hanya bisa pasrah dan nangis di pojokan karena dengan begitu hati saya mudah - mudahan tidak kotor karena tidak menyakiti orang lain secara sadar kalaupun memang tanpa sadar, karena saya tidak ada niat maka hal itu batal. Maka barang siapapun yang melakukan kejahatan karena ada niat, maka dosa di tanggung orang tersebut. Bahkan walau kamu sering shalat dan terlihat alim, mungkin bisa saja semua pahala kamu gugur karena menyakiti orang lain. Saya harap semua manusia mendapat balasan sesuai perbuatannya. Moga kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan dan lega dengan dosa yang kamu tanam sendiri. Rasa sakit hati saya masih ada, meski saya coba untuk memaafkannya, namun luka itu tidak akan hilang.
Dan untuk kamu yang saya anggap sahabat, namun kamu hanya memanfaatkan saya ketika kamu butuh pendengar. Terima kasih telah ada untuk saya, tapi jujur saya kecewa karena ketika dengan orang banyak kamu akan menghindar dari saya, seolah kamu selalu merasa jijik dengan keberadaan saya di dekat kamu. Lucu ya ??
Dan untuk kamu yang selalu ada untuk saya, mendengarkan saya sepenuh hati. Selalu berusaha menjadi teman terbaik. Moga Allah panjangkan umurmu, dan beri kamu kebahagiaan. Moga kamu lebih panjang umurnya dari saya. Terima kasih karena selalu ada. Saya berharap saya bisa pergi duluan sebelum kamu. Dan moga Allah membantu saya dengan terus membiarkan kamu menemani saya sebagai teman karena saya masih sangat membutuhkan dukungan mental.....
Komentar
Posting Komentar